Kamis, Desember 23, 2010

Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing


Masa; akan terus berlalu dan tidak akan menunggu tiap insan yang lalai dan leka.Menyudahi langkah lalu, menuju peradaban baru, karena usia itu pasti semakin menipis..

kata edCoustic, "..Jalan masih panjang terbentang dihadapan / Tak hanya sekedar dunia / Lihatlah kedepan yang lalu biar berlalu / Jadikan pemicu kalbu... Jalan masih panjang / usah berputus asa / selagi nyawa tersimpan.."

Nyatanya seseorang harus merasa rela (ikhlas), pada sebuah peristiwa hidup yang membuat langkahnya terasa berbeban. Sebagai manusia (hamba) pasti ingat QS. 2 : 286, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.." Ingat? Allah tlah siapkan bahu terkuat untuk hambanya, ketika beban itu datang, bahu ini akan mampu menahannya meski terasa sedih, pedih, perih, bahkan kepayahan. Lalu seorang hamba pun berdoa kepada Rabbnya, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

Semakin kuat badai kehidupan, akar akan semakin menguatkan diri. Mengokohkan diri, demi menopang diri. Tahu mengapa hanya diri (sendiri)? Kalau di pikir, apakah orang lain bisa menanggung apa yang tlah diperbuat oleh diri? Mampukah mereka mempertanggungjawabkan apa yang tlah kita lakukan? Sudah tentu kita memiliki raport masing-masing, dan pertanggungjawaban itu semua hanya diri yang bayar.

Bagai Sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Apabila kamu merasa letih kerana berbuat kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal. Dan sekiranya kamu berseronok dengan dosa maka sesungguhnya keseronokan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal."

Bilakah kehidupan tak punya hati, akan seperti apa? Kita tahu, segala yang terjadi, tentang suka, bahagia, tertawa, semisal lirik "Karena Hati Ingin Bicara (OST Dalam Mihrab Cinta)";

Mengharungi samudera mahligai nan suci / penuh gelombang silih berganti / semua adalah ujian penguat cinta / bila hati bicara. / terkadang tak perlu terucap kata-kata / untuk selami dalamnya hatimu / susah senangmu jadi bagian hidupku / karena hati bicara. / tatap manja matamu kisahkan berjuta cerita / hadirmu di hidupku memberikan berjuta makna / karunia Illahi mempersatukan dua hati / ku rasa yang kau rasa karena hati bicara./

Sahabat, ini tentang takdir. Kita tak kan pernah tahu tentang sebuah takdir. Kebahagiaan tentang hati itu kita akan merasai. Namun tahukah tentang takdir hati itu? Jika kita mencintai bunga akan layu, Jika kita mencintai manusia akan berpisah, Jika kita mencintai Allah kekal abadi. Ya! Mencintai manusia. Sebuah kekalahan yang tak akan terhindar adalah berpisah, dan kehilangan. Apa yang dapat dilakukan? Segalanya, hanya akan kembali pada-Nya. Hidup dan mati. Baik hati, raga, atau pun jiwa.

Pergi demi sebuah perintah dan perjuangan untuk Surga-Nya. Rela ketika harus melupakan jika itu memang perintah Sang Jendral Kehidupan. Akan ada kata, "Jalan kita berbeda!" Sungguh berbeda! Lihatlah lebih jelas, bahwa yang Benar itu Benar, dan yang Salah itu akan tetap salah. Musuh akan tetap diperlakukan seperti layaknya musuh, begitukah? Jalan. Ya! Ini tentang jalan. Jalan kita berbeda. Sang Jendral berkata, "Masalah ini tak usah diteruskan. Tolong untuk di cut aja, teman yang sepertinya baik itu kan banyak, tinggal gimana kita aja." Awalnya sesuatu yang membuat malu, adalah memohon. Hamba memohon pada Sang Jendral untuk mengenali (ulang), dan ingin menemui Sahabat. Namun, itulah kata Sang Jendral. Dan yang harus dilakukan tentang "tinggal gimana kita aja." Berpikir bahwa, usai sudahlah semua cerita tentang "Karena Hati Ingin Bicara." Mencoba melupakan segala, meski proses itu mungkin panjang. Namun Rabb pasti pilihkan jalan bagi hambanya untuk membuat hamba sibuk kepada Rabbnya. Dan mulai terasa Rabb alihkan hati hamba. Inilah yang harus di jalani.

Apa yang terasa, jika hamba memiliki rasa kasih sayang yang begitu pekat kepada Sahabatnya, dan begitupun Sahabat kepada hamba. Lalu dengan tiba-tiba dan serta merta, hamba harus terpisah dengan Sahabatnya. Bukan karena kemauan Hamba, bukan pula karena kemauan Sahabat. Tapi ini adalah perintah mutlak. Terasa? Mungkin sulit... Lebih sulit dari meringkihkan kaki mendaki, lebih sulit dari kaki menyerap jalan berduri, lebih sulit dari memegang bara api. Dan segala kata derita nestapa menunjukkan itu. Begitulah realitas hidup. Akan ada masanya, sulit, lalu mudah dan mudah... Yakin bahwa Allah-lah pemberi jalan terbaik kehidupan ini...

Mengerti atau tidak tentang jalan hidup ini, semua itu Allah yang berikan pemahaman itu kepada diri. Ilmu Allah begitu sangat luas. IA tak pernah beri masalah yang sama, mengapa? itulah Maha Luas-Nya. Satu masalah terlewat, akan ada masalah lain yang datang. Atau, tak pernah selesaikan sebuah masalah? Masalah itu akan datang kembali menuntut penyelesaian, meski dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Untuk apa masalah itu ada? Apa? Menguji keiamanan dan ketaqwaan hamba kepada Rabbnya. Setiakah hamba kepada perintahNya? Istiqomahkah hamba kepada SyariatNya? Itu? Dan mungkin yang lain yang terlintas dipikiran...

Ya Rasul, betapa jauh jarak umatmu kini denganmu. Dan betapa banyak perpecahan yang ada tentang apa yang tlah Engkau perjuangkan demi RisalahNya. Seperti lirik Baitulitmain, "Di Mana Kan Ku Cari Ganti Rasulullah" ?

Ya Ya Rasulullah / Ya Rasul / Ya habib / Ya syafi’.

Di mana kan ku cari ganti / Serupa denganmu / Tak sanggup ku berpisah dan berhati patah hidup gelisah.

Ya Rasul. / Alangkah pedih rasa hati / Selama kau pergi / Tinggal kami sendiri / Tiada berteman di dalam sepi.

Ya Rasulullah / Ya habibullah / Ya syafi’ / Ya Rasulullah.

Dunia terang menjadi gelita / Cahaya indah mengundang gerhana / Keluhan hatiku menambah derita / Rindukan dikau jauh di mata.

Ya habib. / Di mana kan ku cari ganti / Serupa denganmu / Tak sanggup ku berpisah dan berhati patah hidup gelisah.

Ya habib. / Di mana kan ku cari ganti / Mungkinkah di syurga / Untuk kita berjumpa di saat gembira selama-lama.

Akankah kedamaian hidup ini hadir, ketika semua lini kehidupan menjadi sunah Rasul-Mu. Adakah bagian usia ini andil dan merasakan indahnya madinah-Mu.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَيَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim dan Ya’qub bin Humaid bin Kasib serta Suwaid bin Sa’id mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah Al Fazari telah menceritakan kepada kami Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim)

Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Hal ini terlihat pada masa sekarang ini dimana munculnya berbagai bid’ah yang menutupi sunah-sunah Rasulullah. Dan apabila seseorang ingin mengikuti sunnah Rasul maka akan dianggap sebagai orang asing, apabila kita ingin menerapkan syariat islam maka kita akan bertentangan dengan orang pada umumnya yang mana telah menganut sistem orang kafir, dan kita sebagai muslimin maka janganlah kita takut untuk mengikuti sunah Rasul karena dalam hadist di ats disabdakan oleh Rasulullah orang yang asing tersebut adalah orang yang beruntung. Namun orang yang asing disini bukanlah orang yang membedakan diri, namun adalah Seorang Muslim yang ingin menegakkan sunnah Rasul.[]

Anfa Hanan

Rawamangun, 23 - 12 - 2010.

00:24 wib

Sudahilah

segala tangis dan luka.

Karena tiada yang pantas untuk ditangisi

tentang hati.

Yang ada adalah duka,

pada keburukan sikap yang tlah ada.

Tak mampu lagi

ingatkan benar

tentang langkah sebuah jalan.

Inilah jalan itu

yang benar. (Jika Allah mengijinkan)

Kembalilah padaNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar