Sabtu, Juli 30, 2011
aku diam. aku tak tahu kecewa itu apa
Rabu, April 13, 2011
CITA YANG TERTUNDA
Pertimbangan ini terkait dengan;
Selamat Berjuang Kembali.
Alloh selalu membersamai, meski diri terkadang merasa sendiri.
Ada saatnya pohon yang ditanam menghasilkan buah yang terasa manis.
Rawamangun, 13 April 2011.
Lantai Empat Kampus B, Pukul 9:37 AM.
Jumat, Maret 25, 2011
GAJE
hal-hal yg membuatnya risau, galau, gelisah, resah,
rasa-rasa yang sepertinya tak tentu dan semakin membuat bumi terasa sempit baginya..
bukanlah dari kabar jiwanya..
tidakkah terlintas untuk evaluasi dan instrospeksi?
jatuh itu SAKIT,, tapi teruslah ber-ikhtiar untuk "selalu" memantul kembali..
Alloh itu adil! Sesuai dengan apa yang tlah kita kerjakan.
apakah saudara-saudaraku 'sbg orang terdekat' takut untuk menanyakan,
"Bagaimana kabar imanmu?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Rabb-mu?"
pasti rindu akan tanya yang mengingatkan itu, bahwa engkaulah saudaraku yg kucintai karena Alloh,
dimanakah 'karena Alloh' itu terselipkan...
bahwa sesungguhnya adanya kita untuk bisa 'saling' mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran.
tidakkah membiarkan saudaranya terjatuh, tidak membuatmu merasakan sakitnya?
bukankah hadits katakan 'satu tubuh'?
aku pun tidak buta dengan keadaan jiwa saudara-saudaraku disana,
mereka membutuhkan Rabb-nya..
tapi aku melemah, aku buruk, memang kadang merasa tak pantas untuk mereka..
aku justru memperburuk jiwa mereka disana..
dhoifku, naifku, maafkan aku yang buruk..
aku tak kan akui lagi pada 'orang terdekat' naifku akan pengingatan mereka
untuk mengingatkan saudara-saudaraku yang lain..
pengingatan mereka cukup atas rindu yang terpadu pada pedih..
itu cukup..
baik ya? mereka pengingat tanpa tak ucapkan sesuatu sekalipun..
ketika terpadu satu jeruji dalam keburukan saudaranya,
yang ada hanya menggunung menjulang pedih antarsesamanya..
kita harus samasama sadari,
kita samasama punya perasaan,
kita samasama punya persoalan,
kita samasama punya kebimbangan dan keluarganya,
tak perlulah saling menyakiti,
pahami diri saja masing-masing,
pahamilah orang lain pun punya sisi sulit,
tak perlu saling menambah beban,
beban itu tak perlu kau berikan,
mereka samasama punya itu dipundaknya masing-masing..
tidakkah untuk bersama saja untuk meringankan beban-beban saudaranya?
bukan nilai 'tanah' yang dikantongi..
tapi nilai 'ruh'nya untuk menjulang ke langit lebih baik, dan baik lagi..
*hmm.. catatan gaje.. spontan.. tau deh klo baca lagi ni apa maksud'e.. he
anfahanan
Kamis, Maret 17, 2011
Never Say Goodbye
anggap saja 'iya'
tapi 'tidak' bagiku.
anggap saja itu jawaban
tapi bukan itu maksudku.
angap saja aku menyuruhmu pergi
tapi inginku tak begitu.
ada harap yang tak kumuntahkan.
hanya saja tanya itu
"...or do u wanna say good bye without saying anything to me???"
melintasi ruang gerakku
ini penjelasku.
sejenak saja
karena tibatiba TEGAR itu hadir
meski harus dengan kepayahan yang memedih.
aku harus melakukan itu
untukku, mungkin juga untukmu.
baik bagiku, mungkin juga baik bagimu.
melatih untuk tidak rapuh di titik rasa
mengokoh di kakikaki perjuangan yang penuh pendakian berliku
bukan karena siapasiapa
bukan.. bukan mereka
tapi aku.
aku yang mengibarkan bendera rehat
rehat pada kepekatan asa, cita, dan juga rasa
berdua, bertiga.. atau bahkan lebih.
cukup sejenak
ijinkan aku memalingkan fokus
pada asa, cita, dan juga rasa
berdua, bertiga.. atau bahkan lebih.
tidak menggeser apapun yang tlah ada
tentang asa, cita, dan juga rasa
untuk kebahagiaan dunia akhirat bersama...
tidak lagi terterima kata demi kata di dua awal itu
"Hati hanya bisa mencintai sementara waktu,
kaki hanya bisa melangkah beberapa mil,
tapi memilikimu sebagai Saudara di jalan Alloh Subhanahu wa ta'ala
adalah kebahagiaan dunia akhirat..."
dua akhir itu saja yang terterima.
dan ingin katakan apa yang tlah dikatakan orang*,
"aku mencintaimu [kalian] karena Alloh
dengan cara yang di Ridhoi Alloh
dan mencari Ridho Alloh..."
Sejenak saja
ijinkan aku rehat.
kutipan :
karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
"jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara"
................
................
lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
....... [*Salim]
sengketa tak berarti selalu bencana
beda tak berarti tak indah
kesalahan tak berarti tak mesra di jalanNya,
meski setiap rindu tak selalu untuk kembali
masih ada serpihserpih rindu lain yang menyambut erat
di sisi-sisi waktu dalam ridhonya bertemu...
dan,
Never Say Goodbye.
Anfa Hanan.
Rawamangun, 16 Maret 2011.
12:01 AM.
Kamis, Desember 23, 2010
Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing
Masa; akan terus berlalu dan tidak akan menunggu tiap insan yang lalai dan leka.Menyudahi langkah lalu, menuju peradaban baru, karena usia itu pasti semakin menipis..
kata edCoustic, "..Jalan masih panjang terbentang dihadapan / Tak hanya sekedar dunia / Lihatlah kedepan yang lalu biar berlalu / Jadikan pemicu kalbu... Jalan masih panjang / usah berputus asa / selagi nyawa tersimpan.."
Nyatanya seseorang harus merasa rela (ikhlas), pada sebuah peristiwa hidup yang membuat langkahnya terasa berbeban. Sebagai manusia (hamba) pasti ingat QS. 2 : 286, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.." Ingat? Allah tlah siapkan bahu terkuat untuk hambanya, ketika beban itu datang, bahu ini akan mampu menahannya meski terasa sedih, pedih, perih, bahkan kepayahan. Lalu seorang hamba pun berdoa kepada Rabbnya, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Semakin kuat badai kehidupan, akar akan semakin menguatkan diri. Mengokohkan diri, demi menopang diri. Tahu mengapa hanya diri (sendiri)? Kalau di pikir, apakah orang lain bisa menanggung apa yang tlah diperbuat oleh diri? Mampukah mereka mempertanggungjawabkan apa yang tlah kita lakukan? Sudah tentu kita memiliki raport masing-masing, dan pertanggungjawaban itu semua hanya diri yang bayar.
Bagai Sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Apabila kamu merasa letih kerana berbuat kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal. Dan sekiranya kamu berseronok dengan dosa maka sesungguhnya keseronokan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal."
Bilakah kehidupan tak punya hati, akan seperti apa? Kita tahu, segala yang terjadi, tentang suka, bahagia, tertawa, semisal lirik "Karena Hati Ingin Bicara (OST Dalam Mihrab Cinta)";
Mengharungi samudera mahligai nan suci / penuh gelombang silih berganti / semua adalah ujian penguat cinta / bila hati bicara. / terkadang tak perlu terucap kata-kata / untuk selami dalamnya hatimu / susah senangmu jadi bagian hidupku / karena hati bicara. / tatap manja matamu kisahkan berjuta cerita / hadirmu di hidupku memberikan berjuta makna / karunia Illahi mempersatukan dua hati / ku rasa yang kau rasa karena hati bicara./
Sahabat, ini tentang takdir. Kita tak kan pernah tahu tentang sebuah takdir. Kebahagiaan tentang hati itu kita akan merasai. Namun tahukah tentang takdir hati itu? Jika kita mencintai bunga akan layu, Jika kita mencintai manusia akan berpisah, Jika kita mencintai Allah kekal abadi. Ya! Mencintai manusia. Sebuah kekalahan yang tak akan terhindar adalah berpisah, dan kehilangan. Apa yang dapat dilakukan? Segalanya, hanya akan kembali pada-Nya. Hidup dan mati. Baik hati, raga, atau pun jiwa.
Pergi demi sebuah perintah dan perjuangan untuk Surga-Nya. Rela ketika harus melupakan jika itu memang perintah Sang Jendral Kehidupan. Akan ada kata, "Jalan kita berbeda!" Sungguh berbeda! Lihatlah lebih jelas, bahwa yang Benar itu Benar, dan yang Salah itu akan tetap salah. Musuh akan tetap diperlakukan seperti layaknya musuh, begitukah? Jalan. Ya! Ini tentang jalan. Jalan kita berbeda. Sang Jendral berkata, "Masalah ini tak usah diteruskan. Tolong untuk di cut aja, teman yang sepertinya baik itu kan banyak, tinggal gimana kita aja." Awalnya sesuatu yang membuat malu, adalah memohon. Hamba memohon pada Sang Jendral untuk mengenali (ulang), dan ingin menemui Sahabat. Namun, itulah kata Sang Jendral. Dan yang harus dilakukan tentang "tinggal gimana kita aja." Berpikir bahwa, usai sudahlah semua cerita tentang "Karena Hati Ingin Bicara." Mencoba melupakan segala, meski proses itu mungkin panjang. Namun Rabb pasti pilihkan jalan bagi hambanya untuk membuat hamba sibuk kepada Rabbnya. Dan mulai terasa Rabb alihkan hati hamba. Inilah yang harus di jalani.
Apa yang terasa, jika hamba memiliki rasa kasih sayang yang begitu pekat kepada Sahabatnya, dan begitupun Sahabat kepada hamba. Lalu dengan tiba-tiba dan serta merta, hamba harus terpisah dengan Sahabatnya. Bukan karena kemauan Hamba, bukan pula karena kemauan Sahabat. Tapi ini adalah perintah mutlak. Terasa? Mungkin sulit... Lebih sulit dari meringkihkan kaki mendaki, lebih sulit dari kaki menyerap jalan berduri, lebih sulit dari memegang bara api. Dan segala kata derita nestapa menunjukkan itu. Begitulah realitas hidup. Akan ada masanya, sulit, lalu mudah dan mudah... Yakin bahwa Allah-lah pemberi jalan terbaik kehidupan ini...
Mengerti atau tidak tentang jalan hidup ini, semua itu Allah yang berikan pemahaman itu kepada diri. Ilmu Allah begitu sangat luas. IA tak pernah beri masalah yang sama, mengapa? itulah Maha Luas-Nya. Satu masalah terlewat, akan ada masalah lain yang datang. Atau, tak pernah selesaikan sebuah masalah? Masalah itu akan datang kembali menuntut penyelesaian, meski dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Untuk apa masalah itu ada? Apa? Menguji keiamanan dan ketaqwaan hamba kepada Rabbnya. Setiakah hamba kepada perintahNya? Istiqomahkah hamba kepada SyariatNya? Itu? Dan mungkin yang lain yang terlintas dipikiran...
Ya Rasul, betapa jauh jarak umatmu kini denganmu. Dan betapa banyak perpecahan yang ada tentang apa yang tlah Engkau perjuangkan demi RisalahNya. Seperti lirik Baitulitmain, "Di Mana Kan Ku Cari Ganti Rasulullah" ?
Ya Ya Rasulullah / Ya Rasul / Ya habib / Ya syafi’.
Di mana kan ku cari ganti / Serupa denganmu / Tak sanggup ku berpisah dan berhati patah hidup gelisah.
Ya Rasul. / Alangkah pedih rasa hati / Selama kau pergi / Tinggal kami sendiri / Tiada berteman di dalam sepi.
Ya Rasulullah / Ya habibullah / Ya syafi’ / Ya Rasulullah.
Dunia terang menjadi gelita / Cahaya indah mengundang gerhana / Keluhan hatiku menambah derita / Rindukan dikau jauh di mata.
Ya habib. / Di mana kan ku cari ganti / Serupa denganmu / Tak sanggup ku berpisah dan berhati patah hidup gelisah.
Ya habib. / Di mana kan ku cari ganti / Mungkinkah di syurga / Untuk kita berjumpa di saat gembira selama-lama.
Akankah kedamaian hidup ini hadir, ketika semua lini kehidupan menjadi sunah Rasul-Mu. Adakah bagian usia ini andil dan merasakan indahnya madinah-Mu.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَيَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim dan Ya’qub bin Humaid bin Kasib serta Suwaid bin Sa’id mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah Al Fazari telah menceritakan kepada kami Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim)
Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Hal ini terlihat pada masa sekarang ini dimana munculnya berbagai bid’ah yang menutupi sunah-sunah Rasulullah. Dan apabila seseorang ingin mengikuti sunnah Rasul maka akan dianggap sebagai orang asing, apabila kita ingin menerapkan syariat islam maka kita akan bertentangan dengan orang pada umumnya yang mana telah menganut sistem orang kafir, dan kita sebagai muslimin maka janganlah kita takut untuk mengikuti sunah Rasul karena dalam hadist di ats disabdakan oleh Rasulullah orang yang asing tersebut adalah orang yang beruntung. Namun orang yang asing disini bukanlah orang yang membedakan diri, namun adalah Seorang Muslim yang ingin menegakkan sunnah Rasul.[]
Anfa Hanan
Rawamangun, 23 - 12 - 2010.
00:24 wib
Sudahilah
segala tangis dan luka.
Karena tiada yang pantas untuk ditangisi
tentang hati.
Yang ada adalah duka,
pada keburukan sikap yang tlah ada.
Tak mampu lagi
ingatkan benar
tentang langkah sebuah jalan.
Inilah jalan itu
yang benar. (Jika Allah mengijinkan)
Kembalilah padaNya.
Sabtu, Desember 18, 2010
UNGKAPAN SANG NURANI
dalam pergantian usia...
Kuperuntukkan kepada seluruh kawan..
dimanapun berada..
MOMENTUM RASA
untuk segala salah dan khilaf,
untuk segala luka dan duka,
dengan rasa penuh nestapa
dengan sangat kumohon maaf..
untuk harap dan doa,
untuk suka dan cita,
untuk segala bahagia,
dengan rasa suka cita
kupohonkan terima kasih banyak..
bila luka, duka dan nestapa tak jua terbayar dengan maaf..
bila harap, doa, suka, dan bahagia tak jua terbayar dengan terima kasih..
biarlah kumohonkan padaNya
semoga IA yang balas segalanya dengan kebaikan berlipat..
Anfa Hanan.
Serang, 17/12/2010
---------------------------------------------------------------------------------------
Khusus untuk Saudariku (*bisa jamak) yang telah berikan "kekokohan langkah" itu,
semoga Alloh masih bisa pertemukan kita dengan kebaikan yang tepat.
KEKOKOHAN LANGKAH
jika dulu engkau membuatkanku "tongkat" untuk berjalan
sebagai kekokohan langkah,
biarkanlah jika aku memang harus berjalan tanpa "tongkat" itu
meski awalnya sangat begitu sakit untuk melatih langkah...
dan kuhapus dikamus langkah hidup,
tak lagi ada "tongkat" untuk sebuah kekokohan
yang ada, adalah kekokohan untuk beriringan dalam langkah.
aku tak akan berjalan di depanmu,
aku tak ingin jua berjalan di belakangmu,
berjalanlah seiring bersamaku..
dan semoga Alloh masih ijinkan itu..
meski aku tak pernah tahu tentang waktu.
entah masih pantas atau tidak?
atas rindu yang membiru
atas sayang yang menderu
kan slalu kususur takdir nurani
apapun langkah hati
dengan segala kemutlakan petunjukNya.
Anfa Hanan
Serang, 17/12/2010.
--------------------------------------------------------
kupernah meminta maaf tentang rasa.
dan kamu pernah katakan,
"apakah ini sebuah kesalahan?"
dan nyatanya,
aku kembali ingin mengatakan,
"benar!"
Maaf! jika "Rasa" ini adalah sebuah kesalahan.
Namun semoga Alloh tak kategorikan rasa ini sebagai sebuah kesalahan.
karena aku masih akan selalu mendapatkan jawaban yang tepat dariNya.
Mengapa seperti ini jalanNya?
Kita memang tak pernah tahu,
tentang waktu,
tentang masa yang ada di depan,
tentang sebuah kemenangan,
juga tentang usia,
masihkah dipertemukan jika kemenangan itu hadir dalam bagian usia ini.
bagian dari hidupnya persahabatan dan persaudaraan..
Jumat, Desember 03, 2010
Dan akupun tak ingin terluka... -- Al-Mumtahanah (Perempuan yang Diuji)
Aku tidak akan keluar dari semua yang ada disini--Al Mumtahanah. Sejauh rasa sayang yang tlah Alloh berikan kepadaku kepada yg dulu adalah kerabat yang sangat dekat denganku. Namun demikian, ketika aku mengetahui sesuatu tentang siapa kamu--sebagai kerabat yang sangat dekat denganku dulu--yang sebenarnya, dan perintah Alloh dalam surat ini, menjadi sebuah aturan yang tak akan bisa aku tawar. Dan akupun HARUS mengikuti-NYA.
Bacalah!
Tafsirlah dengan nuranimu..
Semoga Alloh tidak menutup kedua matamu, memberi hidayah dan memberikan Karunia-Nya kepadamu tiada henti.
Al-Mumtahanah (Perempuan yang Diuji)
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu laa tattakhidzuu 'aduwwii wa'aduwwakum auliyaa-a tulquuna ilaihim bil mawaddati wa qad kafaruu bi maa jaa-akum minal haqqi yukhrijuunar rasuula wa iyyaakum an tu'minuu billaahi rabbikum in kuntum kharajtum jihaadan fii sabiilii wab tighaa-a mardhaatii tusirruuna ilaihim bil mawaddati wa ana a'lamu bi maa akhfaitum wa maa a'lantum wa may yaf'alhu minkum fa qad dhalla sawaa-as sabiil.
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
QS. al-Mumtahanah (60) : 1إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ
In yatsqafuukum yakuunuu lakam a'daa-aw wa yabsuthuu ilaikum aidiyahum wa alsinatahum bis suu-i wa wadduu lau takfuruun
Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.
QS. al-Mumtahanah (60) : 2لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Lan tanfa'akum arhaamukum wa laa aulaadukum yaumal qiyaamati yafshilu bainakum wallaahu bi maa ta'maluuna bashiir.
Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
QS. al-Mumtahanah (60) : 3كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibraahiima wal ladziina ma'ahuu idz qaaluu li qaumihim innaa bura-aa-u minkum wa mim maa ta'buduuna min duunillaahi kafarnaa bikum wa badaa bainanaa wa bainakumul 'adaawatu wal baghdhaa-u abadan hattaa tu'minuu billaahi wahdahuu illaa qaula ibraahiima li abiihi la astaghfiranna laka wa maa amliku laka minallaahi min syai-ir rabbanaa 'alaika tawakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir.
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:” Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,
QS. al-Mumtahanah (60) : 4رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Rabbanaa laa taj'alnaa fitnatal lil ladziina kafaruu waghfir lanaa rabbanaa innaka antal 'aziizul hakiim.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
QS. al-Mumtahanah (60) : 5لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
La qad kaana lakum fiihim uswatun hasanatul li man kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa may yatawalla fa innallaaha huwal ghanniyyul hamiid.
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji.
QS. al-Mumtahanah (60) : 6عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
'Asallaahu ay yaj'ala bainakum wa bainal ladziina 'aadaitum minhum mawaddataw wallaahu qadiiruw wallaahu ghafuurur rahiim.
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. al-Mumtahanah (60) : 7لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Laa yanhaakumullaahu 'anil ladziina lam yuqaatiluukum fid diini wa lam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum wa tuqsithuu ilaihim innallaaha yuhibbul muqsithiin.
Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
QS. al-Mumtahanah (60) : 8إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Innamaa yanhaakumullaahu 'anil ladziina qaataluukum fid diini wa akhrajuukum min diyaarikum wa zhaaharuu 'alaa ikhraajikum an tawallauhum wa may yatawallahum fa ulaa-ika humuzh zhaalimuun.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
QS. al-Mumtahanah (60) : 9يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَءَاتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu idzaa jaa-akumul mu'minaatu muhaajiraatin fam tahinuuhunna allaahu a'lamu bi iimaanihinna fa in 'alimtumuuhunna mu'minaatin fa laa tarji'uuhunna ilal kuffaari laa hunnaa hillul lahum wa laa hum yahilluuna lahunna wa aatuuhum maa anfaquu wa laa junaaha 'alaikum an tankihuuhunna idzaa aataitumuuhunna ujuurahunna wa laa tumsikuu bi 'ishamil kawaafiri was-aluu maa anfaqtum wal yas-aluu maa anfaquu dzaalikum hukmullaahi yahkumu bainakum wallaahu 'aliimun hakiim.
Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
QS. al-Mumtahanah (60) : 10وَإِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَآتُوا الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوَاجُهُمْ مِثْلَ مَا أَنْفَقُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Wa in faatakum syai-um min azwaajikum ilal kuffaari fa'aaqabtum fa aatul ladziina dzahabat azwaajuhum mitsla maa anfaquu wat taqullaahal ladzii antum bihii mu'minuun.
Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman.
QS. al-Mumtahanah (60) : 11يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Yaa ayyuhan nabiyyu idzaa jaa-akal mu'minaatu yubaayi'naka 'alaa al laa yusyrikna billaahi syai-aw wa laa yasriqna wa laa yazniina wa laa yaqtulna aulaadahunna wa laa ya'tiina bi buhtaaniy yaftariinahuu baina aidiihinna wa arjulihinna wa laa ya'shiinaka fii ma'ruufin fa baayi'hunna was taghfir lahunnallaaha innallaaha ghafuurur rahiim.
Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. al-Mumtahanah (60) : 12يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu laa tatawallau qauman ghadhiballaahu 'alaihim qad ya-isuu minal aakhirati ka maa ya-isal kuffaaru min ash-haabil qubuur.
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.
QS. al-Mumtahanah (60) : 13---
Layaknya Ibrahim, yang berkata kepada Ayahnya. Aku pun ingin katakan itu kepadamu,
“Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”.
Tiada yang mudah bagiku untuk menerima kenyataan ini. Apalagi di awal aku merasakan tangis yang tak henti, dan kamu pun mungkin begitu. Namun walau begitu, entah apa yang membuatku tegar menerima sebuah kenyataan tentang siapa kamu yang sebenarnya, ketika pertama kali aku benar-benar dengar tentang menelusur siapa dirimu. Entah memang mata tlah kering dari basahnya.. Entah memang apa.. Aku seperti mati rasa mendadak. Karena aku tak pernah tahu apa yang harus aku rasakan tentang ini. Kecewakah aku? Sedihkah aku? ataukah, aku malah tersenyum? maka entahlah...
Pertanyaan yang sering mempertanyakan kita, tentang apa yang ingin Alloh sampaikan kepada kita, tentang "kenapa kamu?" Tlah ada kabar dan nyata bagiku. Dan jawaban ini pun kuyakin antara kita akan memiliki perbedaan jawabannya. baik aku untukmu, dan kamu untukku. Temukanlah jawabanmu... Aku yakin, kamu akan menerimanya secara baik bersama tanpa kebutaan mata yang mungkin akan tidak kamu sadari.
Aku tak ingin tersesat dari jalan yang lurus, dan aku tak ingin menjadi orang zalim karenamu, juga aku tak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Alloh, maka aku akan bertawakal kepada-Nya karena aku ingin beriman hanya kepada-Nya.
Pasti kamu akan pertanyakan banyak hal, mengapa aku bisa menulis seperti ini. dan akupun yakin kan kamu temukan mengapa aku menulis ini. seperti halnya aku selalu mempertanyakan kenapa kalian mempermasalahkan 'itu' kepadaku, dan aku pasti mencari jawabannya dan sungguhpun aku tlah menemui jawaban-Nya.
Meski aku tak pernah mendapatkan penjelasan yang baik tentang apa yang kalian permasalahkan kepadaku. Dan tak aku dapatkan kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara kita, walau awalnya hanya aku dan kamu, namun menjadi bersama dia. Ketika masa-masa yang tlah aku lalui dengan tangis tak hentiku, hariku yang begitu mati, dan tak mendapatkan selubang jarumpun kesempatan memperbaiki kesalahpahaman yang ada. Sampai pada akhirnya kamu menjelaskan semua, tapi mungkin bisa tidak semua. Aku slalu pertanyakan ini di benakku... Aku ingin selesaikan semua ini. Dan inilah ending dari semua yang kalian permasalahkan terhadapku.
Dengan sebuah persoalan, dengan sebuah permasalahan, dan dengan sebuah kenyataan, kita akan mampu mengenali siapa aku, siapa kamu, siapa kalian, dan mengintrospeksi semua peristiwa yang ada yang berkait dengan semua yang terkait. Kuyakin, kau kan temukan jua itu semua...
Hadapi hidup lebih realitas lagi...
[Fa]
Kota Kelahiran, 02/12/2010
anfahanan