Jumat, Agustus 02, 2013

KEPERGIAN DAN KEHILANGAN TERBAIK


jika kehilangan dan kepergian bisa di anggap lebih berharga terasa daripada ada dan bertahan. kupilihkan untuk hilang dan pergi. memilih diriku dan keberhargaan itu.

Jika pertahanan benteng selalu kubangun namun melulu dipatahkan, kupilih saja patah oleh diriku.

Jika saja daun bisa memilih untuk bertahan ditempatnya. Nyatanya daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin...

Semua terjadi atas diri dan kehendakNya. Tak perlu lagi ada persalahan dalam setiap persoalan hidup.*



Ini semua menjadi latar hidup dalam episode hidup sesungguhnya yang harus di hadapi, mungkin tidak saja diri ini, tapi juga setiap orang di atas muka bumi ini.
kapan pernah orang yang dengan mudah mengatakan "merelakan apa yang paling kita sayangi, pergi atau hilang" mampu menjalani episode itu dengan cukup kuat dan tegar? mata nan nanar dan berbinar?
Ya! berbinar. kapan?
Apa mereka semua dengan begitu mudahnya melewati itu semua?
semudah dengan apa yang mereka ucapkan?

Apa kalian pernah memiliki benda atau apapun itu yang kalian sayangi?
untuk yang paaaaaling kalian sayangi?
relakah kalian, berikan ittu pada orang lain?
relakah kalian, ketika benda itu hilang?
jika kalian memiliki orang-orang yang kalian sayangi
relakah kalian, mereka pergi?
relakah kalian, mereka menghilang?
menghindar?
menjauh?
bahkan membenci?
apa yang kalian lakukan?
apa yang bisa membuatmu bisa menjalani kehidupan berikutnya dengan tanpa bayang-bayang itu semua?

apa kalian juga tahu,
bagaimana posisi orang-orang yang mengalami hal-hal itu menurutmu yang belum ada di posisi itu?

apa kalian akan menebak,
lemah? galau? sedih? terpuruk sampai batas waktu yang tidak dapat di tentukan? *bagaimana memperbaikinya?
atau kalian akan menebak,
tegar? rela? ikhlas? tetap bahagia? *bagaimana caranya?

Inilah satu episode kehidupan yang akan kulalui beberapa waktu ini.
akan kubagi, apa yang bisa aku jalani dari setiap kebaikan yang Alloh beri dari setiap yang aku rasa dalam episode ini.
sungguh! Aku begitu yakin Alloh sangat menyayangi setiap hamba dengan caraNya yang Maha Sempurna.
Inilah makna hidup yang mesti kita serap bersama, yang tak terucap dalam nyata.

bersambung...
karena kehidupan selalu bersambung bukan?



Best Regard,
anfahanan

Minggu, Juli 28, 2013

BAHAGIA DENGAN MASALAH

Merajut cita
Menikmati takdir terindah dari sebuah mimpi
Melangkah mantap dari jalur jalur duniawi yang menyeret ukhrawi
Menatap dalam rindu Jannati untuk satu, ridho Ilahi Rabbi..
Mengukir senyum sejarah dari pendakian penuh duri dan jatuhan batuan fanawi
Maka demikian, teruslah telusur jalan lurus Ilahi Rabbi..
Hingga nyawa lebih berharga dari harga harga duniawi yang melambung tinggi..

masalah itu tak pernah habis, bahkan hilang dari kehidupan seseorang, siapapun..
namun bagaimana setiap orang mau menghadapi dan mengurainya menjadi sebuah tangga yang membuatnya berada di atas.. Ya derajat setiap manusia, akan terlihat bagaimana setiap manusia dengan masalahnya..
orang yang merasa tak ada masalah hidup, bukan karena dia memang tak memiliki masalah. Tanyakan saja!
namun bukan jua, tiada merasa adanya masalah, justru mencari cari masalah..
bukan. hanya seperti apa dan sejauh mana masalah itu juga sesuai tempatnya. proporsional.

orang yang memiliki masalah, yang bahkan tidak hanya satu dua, bukan berarti ia tak memiliki hal yang membuatnya tetap dapat merasa bahagia dengan apa yang ia punya dan dapatkan.. ya, syukur.

jadi, hidup ini tetap berada dalam dua sisi yang berbeda.
masalah dan bahagia.
begitupun proporsionalnya kita terhadap duniawi dan ukhrawi.

nyatanya, Ilahi Rabbi tlah mengatakannya pada kita dari surat cintaNya.
Memeluk ukhrawi itu sudah barang tentu duniawi kan terpeluk. Namun, memeluk duniawi, tidak pasti dapat memeluk ukhrawi.

Itu pilihan hidup.
Bagi orang-orang yang berfikir.

dua sisi kehidupan
antara masalah dan bahagia.

ada masanya kita menangis pilu dengan masalah kita,
ada masanya kita tertekan pedih dengan masalah kita,
ada masanya kita dbuat pusing dengan masalah kita,
namun
bukan berarti kita lupa,
disetiap masalah Alloh memberi kita jalan hidup yang lebih baik,
disetiap masalah Alloh menempa kita menjadi lebih dari apa yang kita mampu,
disetiap masalah Alloh memberi pintu jaauh dari apa yang kita mau,
hanya bagaimana kita melihat, dan mendengar apa yang Alloh sampaikan dari sekeliling kita.
melihat bahwa Alloh tak pernah menjahati kita dengan masalah yang kita miliki,
mendengar bahwa Alloh memberi lebih dari apa yang kita mau.

Ya, dengan masalah bukan berarti kita lupa. Bagaimana caranya tersenyum dan tetap merasa bahagia.
Tersenyum dan bahagia, dari apa yang kita minta, dan semuuuuua Alloh berikan untuk kita.
Tidak hanya apa yang kita butuhkan, semua yang kita inginkan Alloh berikan.
Pikirlah apa yang sudah kita minta, dan semua itu Alloh beri.
Pantaskah kita masih mengatakan?
Bahwa Alloh hanya memberi apa yang kita butuhkan? Bukan dengan semua yang kita inginkan?
Ya, kita sama sama tahu, masih ada yang mungkin belum Alloh berikan. Namun, cobalah pikirkan. Berapa banyak yang kita minta? Berapa banyak yang sudah Alloh beri?
Bagaimana kepantasan kita saat ini? Dengan semua yang belum Alloh beri?

Ya, masalah dan bahagia.
tinggal bagaimana kita melihat dan mendengar.

Dan sepantasnya kita,
Sami'na wa atho'na. (*read, dengar dan taat)



anfahanan

Rabu, Januari 09, 2013

SELAMAT JALAN BAPAK FISIKA KOMPUTASI-KU

anfahanan
January 9, 2013


hujan tak pernah memberitahuku
mengapa ia enggan untuk terhenti
hingga sungai yang mengalir sepanjang desaku
tak sanggup lagi menahanmu, hujan..

sedikitpun engkau enggan berbisik padaku
tentang apa yang membuatmu sulit terhenti
sampai kini
ketika angin memberi kabar sesak mendalam padaku...

aku mengerti

sayangnya aku telat mengerti
bahwa matahari enggan menerangi dengan teriknya
bahwa bulan enggan bersinar dengan cantiknya
bahwa hujan
menjawab apa yang dirasakan langit
pada apa yang sekarang menjadi kabar yang sesak mendalam
apa kau pun turut bersedih, hujan?
dengan kabar yang dibawa oleh kawanmu malam ini...
mengapa kau tak sejak awal memberiku kabar lewat kawanmu
bahwa ada kabar yang ingin kau sampaikan...

namun sesak mendalam sudah menjadi akhir dari berita
maka doalah yang tersisa..
#untukmu Bapak yang kami banggakan

semoga amal ibadah, amal sholeh, dedikasimu terhadap pendidikan, kepedulianmu terhadap pendidikan dan mahasiswa khususnya UNJ, dan segala ilmu yang kau berikan menjadi ladang bekal yang kau bawa di hadapanNya... dan keluarga yang kau tinggalkan diberi kelapangan dan kesabaran serta kekuatan untuk kehidupan mendatang..
terima kasih atas segalanya..

selamat jalan Bapak Satwiko Sidopekso, PhD

Kamis, September 20, 2012

Resonansi dan Dimensi Hati

Mmmm.. secara juduuul, memang terkesan.. terkesan apa yah? terserah yang baca saja deh ^_^

Senin malam (17/09/2012) mengantarmu pulang, sesaat dirimu turun dari kuda bermesin milik kakakku itu, hati memang sudah merasa tak nyaman dengan keberadaan 'hatinya' sendiri. Entah karena apa, tapi malam itu aku memang tak banyak bicara seperti biasanya, sesaat dirimu turun dari kuda bermesin itu. Aku memilih segera menyelesaikan kata yang perlu aku katakan, ya! mungkin seperlunya. Aku tahu, aku bukanlah seseorang yang ekspresif dengan perasaanku sendiri kepada orang lain yang bahkan dekat denganku. Setelah kuda bermesin itu berlari menuju peraduannya, bahkan tak ada lima menit pun setelah berlari, hati serasa mendung ingin hujan begitu deras. Tapi entah apa yang memaksa hati ini begitu derasnya memaksa sang mata untuk hujan begitu pilu. Mata yang berkaca-kaca sudah menutupi pandanganku membawa kuda bermesin ini. Hati begitu terasa pilu. Sesekali aku mendongak ke langit, bahkan langit pun tak kulihat berbintang, atau aku tak bisa melihatnya. Beberapa kali aku bertanya pada hati, 'ada apa? mengapa tak nyaman seperti ini suasananya?.' Sesekali terhenti hujan, namun beberapa kali hujan jatuh di sepanjang jalan. Terasa ada yang sakit, namun aku tak tahu apa yang menyebabkannya, atau bahkan siapa yang sedang aku rasai? Semua terpikir berkelebatan sepanjang jalan, semua yang sedang menjadi pikiran, semua yang dekat dengan hati ini. Malam pun terpejam dengan pertanyaan yang tak sempat terjawab.
Pagi. Seharian aku mengunci diri, terkotak dalam dinding berpintu rapat, dengan hujan yang kadang datang dan kadang reda. Meski sore harinya, aku hanya menggerakan tangganku untuk menanyai kabar seseorang yang sangat kusayangi, entah apa yang menggerakan jemari tertuju pada satu nomor--karena terkadang, ketika jemari atau pun gerak tubuh tak mampu menunjukan kemana, aku kirimi pesan ke seluruh nomor yang memiliki hubungan kedekatan di hati ini. Namun tidak halnya dengan hari itu, tertuju pada satu nomor. Dan dari satu nomor itulah 'malam terpejam dengan pertanyaan' terjawab sudah di sore itu. Sakitmu adalah sakitku. Itulah jawaban Resonansi dan Dimensi Hati senin malam itu. Sebisa mungkin, aku berbuat apa yang harus kuperbuat dan juga dengan tetap berdoa untukmu kepadaNya. Karena hanya IA-lah yang Maha Melindungi lagi Maha Penyayang.


Secara ilmu semua bisa dipelajari, apalagi jika hubungannya dengan Resonansi dan Dimensi dalam Fisika--hm hm.. mentang-mentang background lulusan fisika, kayaknya memang fisika ini mengalir dalam darah yah :D #kayaknya--Resonansi bisa dikatakan sebagai peristiwa turut bergetarnya suatu benda krn pengaruh getaran gelombang elektromagnetik luar (KBBI), atau bisa juga 'proses bergetarnya suatu benda dikarenakan ada benda lain yang bergetar, hal ini terjadi dikarenakan suatu benda bergetar pada frekuensi yang sama dengan frekuensi benda yang terpengaruhi.' Dan Resonansi ini juga terkait osilasi, frekuensi dan amplitudo.--haduh-haduh, cukuplah fisikanya ga usah dalem-dalem n'tar tenggelem. 

Namun demikian halnya dengan Fisika Kehidupan. Apapun bisa dimengerti, apapun bisa dipelajari dari setiap peristiwa kehidupan yang terjadi. Tak pernah jauh dari sekitar kita, di dekat kita, bahkan kadang kita pun tak menyadari kehadirannya. Osilasi dalam kehidupan (setiap peristiwa yg berubah secara berkala atau bolak-balik antara dua nilai -Fis) bisa saja diartikan setiap peristiwa apapun yang dialami setiap orang di kehidupan sehari-harinya yang memiliki interaksi berkala dalam hangatnya jabat tangan, senyum tulus, peluk kasih sayang dan keterikatan hati antar sesama, bahkan sampai ada marah, kecewa, benci, cemburu, sedih dan sebagainya, itu semua yang menjadikan resonansi semakin dipengaruhi. Tapi satu hal pengaruh besar pada Resonansi Hati, keterikatan hatinya dengan yang Menciptakan Sang Hati. Semakin dekat, semakin pekat, semakin tinggi nilai iman dan ketakwaannya, semakin besar, semakin terbuka lebar dan semakin transparan resonansi itu terjadi. Yahh! jadi tinggi rendahnya amplitudo itu, bisa dipengaruhi dengan keterikatan hatinya dengan yang Menciptakan Sang Hati (In physics, resonance is the tendency of a system to oscillate at a greater amplitude at some frequencies than at others. -Fis). Maksudnya, karena osilasi pada resonansi akan terjadi pada amplitudo yang lebih besar atau tinggi. Jadi ketika keterikatan hatinya dengan yang Menciptakan Hati berjarak karena keimanan manusia dapat mengalami fluktuasi, disana juga amplitudo untuk merasakan Resonansi itu kadang terasa, kadang tidak. Terasa karena sedang baik dan dekat dengan yang Menciptakan Sang Hati, Tidak terasa resonansi apapun justru karena sedang berjarak jauh dengan yang Menciptakan Sang Hati. Maka jagalah slalu keistiqomahan untuk tetap dalam jalanNya yang Lurus yang penuh dengan Cahaya, yang bisa melihat jauh pandang ke depan tanpa ada yang menghalangi, tembus tanpa batas, transparan, ke segala dimensi yang tak bisa di lihat oleh mata biasa.

Iman itu kadang naik kadang turun maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” 
(HR Ibn Hibban). 
Semua tahu dan hafal sekali dengan hadits ini. Dan juga mestinya tahu, sebab iman bertambah dan berkurang karena apa secara terperinci, juga jenis grafik yang menggambarkan setiap tingkat keimanan.

Bagaimana? Tahu dimana letak Dimensi Hati terkait Resonansi Hati? Ya! Ketika terjadi Resonansi dalam diri kita, disanalah ada dimensi yang tak kenal dinding pembatas, waktu yang kadang bisa maju lebih cepat atau bisa melambat. Apa sebab? Karena ketika Resonansi Hati terjadi, apa yang terasa di hati kita, apa yang kadang kita tak rasa, justru disanalah kita untuk dipaksa 'merasa' ketika ada suatu peristiwa yang dialami oleh seorang atau seseorang yang memiliki kedekatan secara hati dengan kita, memiliki keterikatan hati dengan kita, mengalami sesuatu yang membutuhkan kita untuk sama-sama merasakannya. Ingatkah? 

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (QS. Al Hujuraat: 10)

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits berikut:

“Rosulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : seseorang belum bisa disebut orang mu’min sehingga mampu mencintai saudaranya (sesama Muslim) bagaikan mencintai diri sendiri
(HR. Anas bin Malik RA)

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. (أخرجه البخارى {481})

Artinya:
"Diriwayatkan dari Abi Musa ra. di berkata, "Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda, 'Orang mukmin yang satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan'."
(HR. Bukhari [481])


عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا شْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بَالسَّهْرِ وَالْحِمَى. (أخرجه البخارى {6011})
Artinya:
"Diriwayatkan dari Nu'man bin Bisyr r.a., dia berkata, 'Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda, 'Orang-orang mukmin dalam hal saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada sebagian tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan turut merasakan sakitnya."
(HR. Bukhari [6011])

anfahanan

Minggu, September 09, 2012

KE-BER-ARTI-AN

Mungkin ini persoalan yang menjadikan panggilan-panggilan telepon genggam itu yang tak pernah terjawab, atau bahkan tak pernah dijawab. Mencari makna keberatian itu sendiri masih sulit, entah apa kata itu menjadi 'trending topic' jiwa.


Keberartian. Kalau dilihat dari KBBI, ke·ber·ar·ti·an : n perihal mempunyai arti. Namun di kehidupan nyata, keberartian tidak selalu sesederhana definisi sebuah kamus. Dalam menjalin sebuah hubungan sosial pertemanan, persaudaraan dan persahabatan, selalu ada kerumitan dan kadang tak mampu hanya terpecahkan pada sebuah kesederhanaan definisi sebuah kamus. Sebab kamus kehidupan lebih kaya makna ketimbang makna-makna yang terkandung pada sebuah kamus.

Namun bukan berarti kehidupan itu slalu memperumit diri. Hanya saja setiap perjalanan kehidupan slalu memperoleh makna baru, kata baru, pengalaman baru, persoalan baru, yang tentu saja akan dihadapi dengan berbeda-beda oleh setiap orang sesuai dengan karakter pribadinya masing-masing. Bukan dilihat itu sederhana atau rumit, tapi bagaimana sebuah persoalan itu mudah atau sulit dengan mengemasnya sesuai kreatifitas dan ilmu yang dimiliki untuk menghadapinya.

Lalu, keberartian itu apa? Untuk apa? Kenapa harus ada keberartian? Memang siapa aku untuk mereka?
Emosi diri--keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (spt kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan)--yang membuat sebuah makna baru yang ingin tergali dari sebuah keberartian hubungan pertemanan, persaudaraan dan persahabatan itu yang terus berkembang menjadi sebuah pemikiran yang berputar mencari dan mencari untuk mendapatkan yang sesungguhnya.

Kemudian pada suatu waktu, ada sebuah kisah dalam buku cerita anak “LITTLE PRINCE” tentang persahabatan Sang Pangeran Kecil dengan bunga mawar yang dirawatnya sejak kecil. Suatu hari, ia pergi mengembara dan meninggalkan bunga mawarnya di rumah. Di suatu tempat, ia menemukan kebun mawar yang berisi ribuan tanaman mawar yang membuatnya bersedih karena ternyata mawarnya sama saja dengan ribuan mawar di kebun itu. Bahkan mawar-mawar baru yang ditemuinya tampak jauh lebih indah. Tapi kemudian, sahabat barunya memberinya tahu, bahwa bagaimana pun, mawarnya adalah lebih indah dari mawar-mawar itu.
“Bunga mawarmu mungkin hanya salah satu dari sekian juta  bunga mawar yang lain di dunia ini. Tapi bungamu sangat istimewa,  unik dan sangat berharga bagimu karena kau telah menghabiskan waktu bersamanya, engkau menjinakkannya, engkau melakukan banyak hal untuknya. Maka kemudian engkau mencintainya. Seperti halnya sahabatmu hanya satu dari jutaan manusia di dunia ini, tapi, seperti apapun dia, dia yang terpenting bagimu. Waktu yang telah kau habiskan untuk sahabatmu lah, hal-hal yang kau lakukan untuk mereka lah yang membuat mereka istimewa bagimu.”

Dan sungguh kehidupan hati itu seperti puzzle. Yang di isi tidak hanya satu keping puzzle, tapi beberapa keping puzzle yang menyusun sebuah puzzle menjadi utuh dengan sebuah gambaran indah diatasnya. Satu keping puzzle dan keping puzzle lainnya adalah saling melengkapi, memiliki tempatnya tersendiri yang tak akan tergantikan oleh keping puzzle manapun. Tahu 'kan? Jika salah satu keping puzzle ingin mengganti keping puzzle lain, ia tak akan pernah cocok untuk menggantikan kedudukan atau posisi keping puzzle manapun. Tetaplah ditempat keping puzzle itu seharusnya berada, dan disanalah ia ter-akui sebagai keping puzzle yang mempunyai posisi dan arti di tempatnya.

Seharusnya begitulah...
mengartikan diri dalam kehidupan orang lain yang memiliki hubungan kedekatan emosi dengan kita, 
kita sudah memiliki arti tersendiri dimana posisi kita dalam hidupnya. 
tak ada lagi meminta, 
tak ada lagi memojokan, 
tak ada lagi menuntut, 
tak ada lagi iri, 
saat melihat orang lain yang menjadi bagian keping puzzle dalam kehidupannya.
meski tabiatnya manusia 
tetap memiliki rasa cemburu...



anfahanan

Kamis, Mei 03, 2012

antara Idealisme Kerja [yang melangit] dan Egois Diri

Banyak orang yang mendambakan pekerjaan yang sesuai dengan impian, impian yang kadang melangit tanpa sadar. betul! tidak ada yang salah pada sebuah harapan yang di simpan jauh di langit sana. tapi melangit di sini punya arti tersendiri. kita lihat saja dimana arti melangit itu.

sekian waktu memburu setiap aktivitas yang di jalani setiap orang, terlebih sebagai mahasiswa yang baru saja menanggalkan status mahasiswanya, status itu di tinggalkan saja di kampus. mungkin begitu kesan yang ada setelah palu sidang berkata 'anda dinyatakan lulus.'

aktivitas apakah yang di buru? yaa.. apalagi jika bukan soal kerja, kerja, kerja dan kerja. berkeliaran di dunia nyata atau pun maya melayangkan sebuah 'biodata' berharap ada panggilan kerja dan tidak menumpuk di rumah. panggilan demi pangilan datang melalui handphone, pangilan demi panggilan di datangi untuk tes, dan  interview. sisanya menunggu, menunggu dan menunggu kabar lolos atau tidak.

tapi perlu diketahui, apa sebab dari berbulan-bulan belum juga mendapat tempat kerja yang di harap? di sini hanya sebatas membahas, apa yang bisa di lihat dari sebuah problema beberapa pencari kerja padahal secara kompeten dia cerdas, pintar, punya skill; kelebihan masing-masing orang. tapi kenapa masih juga tidak punya status baru setelah status mahasiswa di tinggalkan?

secara pribadi melihat, bahwa yang mereka simpan di langit sana sangat begitu melangit. berharap salary yang jauh di batas kemampuan apa yang menjadi kemampuan dirinya. paling tidak, kita harus mampu dimana kelebihan yang bisa kita munculkan, dan disanalah kita bisa menilai seberapa jauh nilai dari apa yang kita punya. meskipuuun, kita tahu tidak ada yang tidak mungkin jika kita bisa mendapatkan lebih nilai dari apa yang menurut kita di luar kemampuan kita. tapi minimal kita tahu, siapa kita, bagaimana diri kita, dan harus seperti apa kita menilai diri kita sendiri.

salahkah berharap salary tinggi? posisi kerja yang keren? tempat kerja yang eksklusif? semuanya tidak ada yang salah. berharap tetaplah menjadi tempat tertinggi tinggal bagaimana kita berusaha lebih untuk mendapatkan itu semua. setuju? problemnya, sudahkah berusaha lebih untuk semua itu. kalau aku menilai daripada mempersulit diri, sudahlah upgrade saja kemampuan yang sudah ada. tidak perlu mengada-adakan yang tidak ada di diri kita. pilihan idealisme kerja boleh, tapi apakah selalu menuntut terus begitu sampai menyia-nyiakan waktu yang terlewat tanpa ada yang bisa diperbuat menjadi lebih?

lagi-lagi, kita harus bisa lihat. bahwa apa yang kita lakukan sekarang untuk menetukan langkah kita ke depan, masa kita di depan, adalah dimana saat ini kita berdiri mencoba menjalani apa yang bisa kita jalani dengan sebaik mungkin. lalu setidaknya dari apa yang kita lakukan, siapa tahu menjadi batu loncatan yang luar biasa untuk menjadi seseorang yang LEBIH dari apa yang kita nilai dari seseorang biasa menjadi luar biasa.

banyak tokoh-tokoh sukses mereka-mereka adalah orang-orang hebat yang berusaha merangkak dari bawah. kita harus sadari itu untuk menjadi acuan atau referensi untuk langkah kita ke depan. jadi, kita bisa lihat bagaimana sesorang dengan idealisme kerjanya dengan apa yang menjadi keegoisan dirinya yang selalu ingin lebih dari apa yang tidak kita lihat dari apa yang kita miliki.

salam sukses.
karena hidup akan terus berjalan seriring detik waktu berganti, dan tak ada yang sia-sia selama kita mampu menjalaninya dengan penuh kebaikan dan keberkahan.[anfa]

pribadi. aku akan menempatkan diriku dimana aku membutuhkan sesuatu untukku dan juga orang lain di sekelilingku. sementara aku masih mantau tempat kerja impian, sementara itu juga aku mencoba menutupi apa yang kosong dengan hariku.
meski semenjak semester delapan aku tidak kehilangan aktifitasku untuk menutup seluruh kekosongan kebanyakan orang. semester sembilan kelulusan, aku tetap di aktivitasku dengan keluarga yang baru di Rumah Belajar Kita. kayaknya seru dan perlu aku cerita tentang lepas masa status mahasiswaku.
tunggu saja.. insyaalloh :)


anfahanan

Senin, November 14, 2011

persaudaraan sejati

aku bisa,
hidup dengan apa yg kupunya,
dengan apa yang kumiliki..
bersenandung dalam hidup tanpa sebuah lagu..
bermimpi tanpa sebuah impian..
bercengkrama tanpa seorang kawan..

ilusi.
ternyata semua hidup itu hanya dipenuhi ilusi..
tersadari tak mampu berdiri,
tanpa kedua kaki.
ya!
aku sudah seperti kehilangan kedua kaki.
semangat hidup itu ada di kedua kaki yang itu..
meski seorang mampu hidup tanpa mengandalkan kedua kaki..
hidup dengan kedua kaki adalah kesempurnaan.
itulah semangat hidup yang kupunya..
puzzle kehidupan yang tak mampu terlepas..
satu dua atau tiga bagian hilang, bukanlah puzzle yang sempurna..

hidup dengan ilusi diri
memapah kemandirian tanpa merasa kehilangan
itu hanya melukai diri tanpa mau menyadari
bahwa mereka adalah bagian dari semangat hidup ini.

egois,
suatu tembok tebal yang sangat menghalangi kesempurnaan.

nyatanya..
tersadari bahwa ini semua ilusi diri..
tak mampu berdiri..
lebih dari kehilangan kedua kaki..
menutup mata dari paripurnanya kehidupan hakiki..
dengan persaudaraan sejati.
14/11/2011. 06:32 pm


sepertinya simpanan masa lalu hilang bersama ke-egoisan..

lalu apa yang bisa di mengerti tentang sebuah persaudaraan?
hanya bisa menyakiti diri sendiri?
takut pada keadaan terluka atau di lukai?
jadi lebih baik melukai diri sendiri?

tanpa perlu lagi sama sama bisa menyimpan harapan bersama kepadaNya..
tanpa perlu lagi ada kata bersama..
sama sama kepada 'saling'
ya! tak lagi ada kata saling...
persisnya tahu, bahwa persaudaraan dibangun karena kepercayaan,
dan loyalitas begitu tinggi.. juga untuk kata saling...

tapi semua bisa saja semu dengan ilusi diri masing-masing..
membusung dada diri ini bahagia..
padahal luka begitu pedih membasuh hari..

lupa..
tentang siapa itu saudara.
hanyut bersama air mata dalam bendungan rindu tertutup rapih
tanpa mau menyiramnya dengan bahasa hati
tersampaikan oleh mentari pagi atau terangnya rembulan...

selalu berselimut dengan takut
takut ianya melihat
bahwa hari selalu menyimpan senyuman tak disampaikan
menyimpan cerita rindu tak terelakan
dengan beribu simpanan harapan..
takut!
takut ianya melihat bahwa aku masih menyimpan harap.
kututupi dengan hilangnya diri untuk berlari dari penglihatannya..
karena ianya takut
untuk lagi mempunyai harap
tentang semua harap yang sempat tersulam oleh masa..

dari semua rajutan masa oleh sulaman hati yang tersimpul dengan baik
terjaga untuk kembali menggali harap tenggelam bersama ke-egoisan.
tersenyum bersama air mata terbasuhkan kenangan masa..
terluka bersama tawa dengan basahnya rindu pada hati..

menunggu suatu senyum selamat datang yang tak pasti..
bersama kerelaan diri untuk melukai hari dengan sepi..
rasa maaf tak sepahit yang di harap..
rasa luka tak semanis yang tersajikan..
tapi ketegaran harus terbayarkan.
meski lelahnya berdiri dengan kepapaan ilusi.

sampai jumpa goresan..
goresan warna pada langit..
goresan simpul pada bibir..
dan mungkin juga goresan pedih pada hari..
semua menjadikan bumi subur dengan kekuatan langit.


14/11/2011. 21:22 pm

anfahanan